Indonesia memiliki beragam budaya, salah satunya yaitu tari tradisional. Tarian adat tradisional biasanya memiliki ciri khas yang mefleksikan budaya dan kearifan lokal. Tarian tradisional biasanya menjadi salah satu contoh dari keberagaman Indonesia yang terkenal dan sering dipertunjukkan pada acara penting ditingkat internasional.
Menjadi sebuah tradisi di tanah aiir menampilkan tari tradisional diacara spesial HUT RI. Tahun ini di upacara HUT RI ke-78 bertempat di Istana Negara, para penari membawakan Tari Abang None dari Jakarta, Tari Bumu Aekhula dari Nias Barat, dan Tari Cetik Kipas Melinting dari Lampung Timur.
Pertama, penampilan abang none Jakarta ikut menghibur masyarakat dan tamu undangan yang hadir. Mereka menampilkan tarian Nusantara. Selain itu, ondel-ondel dan kembang kelape ikut memeriahkan. Penampilan mereka diiringi dengan beberapa musik khas Jakarta, seperti lagun berjudul jujan gerimis.
Dalam bahasa Betawi, “abang” merupakan panggilan untuk laki-laki yang lebih tua, sedangkan “none” adalah panggilan untuk perempuan muda yang belum menikah. Namun, tak pernah jelas diketahui, kenapa lebih memilih kata “none”, bukan mpok yang biasa dipakai untuk memanggil kakak perempuan di kekerabatan orang Betawi.
Kedua, penampilan tari Bumu Aekhula. Tarian ini merupakan tarian kolaborasi dari beberapa tarian adat daerah dari Kabupaten Nias Barat diantaranya Tari Moyo, Tari Folaya Saembu, Tari Baluse dan Tari Maena. Tari-tarian ini biasa ditampilkan dalam acara adat, acara perayaan dan syukuran di masyarakat. Tarian Bumi Aekhula sarat dengan makna filosofis dan pesan moral seperti kebersamaan, kerja sama, semangat juang dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritme gerak tari yang beragam mulai dari gerakan lambat dan gemulai hingga gerakan lincah penuh semangat mengisyaratkan dinamika sosial yang terus bergerak, berproses dan melaju.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar